Tampilkan postingan dengan label serbaserbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serbaserbi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2016

INTERPRETASI SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA


“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Demikian ungkapan Soekarno dalam pidato kepresidenannya pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1966. Ungkapan yang kemudian dikenal dengan akronim “Jas Merah” tersebut mengingatkan kepada kita untuk senantiasa membaca sejarah, mengkaji dan menelaahnya untuk kemudian mengambil pelajaran darinya. Sebab peristiwa kemanusiaan adalah peristiwa sejarah yang berulang dengan pelaku yang berbeda dan kemungkinan akhir yang berbeda pula. Peristiwa masa lalu adalah sejarah hari ini, dan peristiwa hari ini akan menjadi sejarah di masa depan. Tak ayal untuk menyelesaikan konflik kekinian kita selalu membandingkannya dengan sejarah di masa lalu.

Namun seringkali dalam mengambil hikmah dari sebuah sejarah, cara bertutur sejarah tersebut memengaruhi opini kita. Ketika sudut pandang sejarah itu berubah tentunya turut merubah interpretasi kita atau setidaknya mempengaruhi penilaian akhir kita terhadap sejarah yang sama. Di samping itu, membandingkan kenyataan hari ini hanya dengan satu peristiwa sejarah saja seakan “memaksa” kita membuat kesimpulan bahwa akhir kisah harus sebagaima yang telah tercatat dalam sejarah. Maka ada baiknya juga kita membandingkan sejarah tersebut dengan sejarah yang kondisinya berbeda hingga menambah dan memperkaya pembelajaran yang dapat kita petik darinya.

***
Tiba-tiba saja sejarah pemecatan Khalid Bin Walid oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khattab menjadi kisah yang populer dan banyak dituturkan pasca mencuatnya berita pemecatan Fahri Hamzah oleh PKS.  Sejarah memang mencatat bahwa Khalid mengalami dua kali pemecatan oleh Umar.

Pertama, pada tahun ke 13 H ketika Umar baru dilantik sebagai khalifah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa setelah Umar Al-Faruq diangkat sebagai khalifah, dia menulis surat kepada Khalid bin Walid. Dalam surat tersebut Umar bin Al-Khattab melarang Khalid bin Walid memberikan kambing atau onta kecuali atas seizinnya. Khalid bin Walid kemudian menulis surat kepada Umar Al-Faruq yang berisi, “Jika engkau menginginkan saya tetap menjabat, maka biarkan saya dalam keadaan seperti ini. Jika tidak, maka terserah engkau melakukan sesuatu sesuai dengan kebijaksanaanmu.”. Umar Bin Khattab pun kemudian memecat Khalid karena suatu kebijakan yang diterapkannya. Dan Khalid pun menerima pemecatannya dengan hati yang lapang. Dia tetap bersedia berperang di bawah komando Abu Ubaidah, penggantinya.

Dan peristiwa kedua terjadi pada tahun 17 H saat Khalid berada di Qisrin. Amirul Mukminin mengetahui bahwa Khalid bin Walid dan Iyadh bin Ghanam melakukan penyerangan terhadap Romawi sampai masuk jauh ke dalam wilayah mereka. Pasukan keduanya membawa harta rampasan perang yang banyak. Setelah itu orang-orang dari berbagai wilayah Syam datang untuk meminta harta rampasan kepada Khalid bin Walid, di antaranya Asy’ats bin Qais Al-Kindi. Khalid bin Walid memberikan kepadanya 10.000 dirham, dan hal ini diketahui oleh Amirul Mukminin. Dia meminta Abu Ubaidah agar memeriksa Khalid bin Walid tentang sumber harta yang ia berikan kepada Asy’ats. Umar kemudian memberhentikan Khalid bin Walid dari jabatan militer untuk selamanya.
          
Khalid bin Walid diminta datang ke Madinah untuk melakukan pemeriksaan. Ia diperiksa dihadapan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah menyerahkan urusan pemeriksaan terhadap kurir Khalifah. Sementara kurir khalifah menyerahkan urusan pemeriksaan kepada mantan budak Abu Bakar. Selesai pemeriksaan terbukti bahwa Khalid bin Walid tidak melakukan suatu kesalahan. Pemberian uang sebanyak 10.000 dirham dari harta rampasan perang terhadap Asy’ats yang dilakukannya sudah sesuai dengan prosedur. Seusai pemecatannya, Khalid bin Walid berpamitan kepada penduduk Syam. Dan yang cukup berat baginya adalah perpisahan antara komandan perang dengan pasukannya.  Di Hadapan orang-orang dia berkata:

Sesungguhnya Amirul Mukminin telah menugaskanku menjadi komandan perang di Syam dan memecatku ketika datang musim panen gandum dan madu.

Kemudian ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata kepadanya, “Sabarlah wahai komandan. Sesungguhnya jabatan adalah cobaan.” Khalid bin Walid menjawab, “Selagi Umar bin Al-Khattab masih hidup, saya tidak akan memangku jabatan lagi.

Betapa sikap Khalid bin Walid ini merupakan buah dari keimanan yang kuat. Kekuatan spiritual apa yang mengendalikan diri Khalid bin Walid pada situasi yang demikian kompleks? Dari mana datangnya petunjuk kepada Khalid bin Walid sehingga dia dapat memberikan jawaban yang tenang dan penuh hikmah. Orang-orang pun tenang setelah mendengar jawaban Khalid bin Walid yang berisi tentang dukungannya kepada kebijaksanaan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab. Dengan demikian, mereka mengetahui bahwa komandan mereka yang dipecat bukanlah termasuk dari orang-orang yang mengharap singgasana kebesarannya di atas kekacauan dan revolusi. Dia termasuk orang yang berpikiran untuk menjaga persatuan umat.
Khalid kemudian berangkat ke Madinah menemui Amirul Mukminin. Amirul Mukminin berkata, “Wahai Khalid, sesungguhnya engkau di sisiku sangatlah mulia dan engkau adalah kekasihku.” Umar juga menulis surat yang dikirimkan ke berbagai wilayah sebagai berikut :
Sesungguhnya aku memecat Khalid bin Walid bukan karena aku benci kepadanya atau dia berkhianat. Akan tetapi orang-orang terlalu menghormatinya. Saya khawatir mereka akan menggantungkan kemenangan dalam medan pertempuran terhadap dirinya. Saya juga berharap mereka mengetahui bahwa Allah lah yang memberikan kemenangan. Saya juga berharap supaya mereka tidak tergoda dengan kehidupan dunia.
Maka lihatlah sikap yang ditunjukkan keduanya. Sejarah mencatat keduanya memilih untuk “berdamai” dan menjaga keutuhan jama’ah yang saat itu sedang memasuki masa ekspansi memperluas wilayah kekuasaan. Mereka lebih berfokus pada musuh-musuh di luar dari pada memperkeruh masalah yang mungkin saja sifatnya pribadi. Khalifah Umar sendiri secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya terhadap jama'ah bukan terhadap pribadi Khalid. Sedangkan Khalid, sekalipun melontarkan kekecewaannya ia tetap memilih mematuhi perintah sang Khalifah. Tercatat kemudian Khalid menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah lain yang sebelumnya terlupakan beliau karena disibukkan oleh peperangan. Bagaimana dengan jama’ah? Ketenangan yang ditunjukkan oleh kedua tokoh tersebut mampu menenangkan umat hingga tetap berkhidmat kepada kepemimpinan Umar. Tidak terdengar hiruk-pikuk suara perpecahan di tengah umat.
Namun sejarah juga mencatatkan perselisihan lainnya antara pemimpin umat namun dengan akhir yang berbeda. Wafatnya Khalifah Utsman Bin ‘Affan telah membuka pintu fitnah, sementara pengangkatan Khalifah Ali belum minciptakan suasana yang aman. Meskipun Khalifah Ali dipilih kaum muslimin namun ada pihak lain yang kurang setuju atas pengangkatanya yaitu Muawiyyah  bin Abu Sufyan. Muawiyah beralasan atas pengangkatan Ali karena Khalifah Utsman dibunuh secara dholim dan belum di qisos pembunuhnya. Muawiyah mengajukan permintaan pada Ali agar menyerahkan para pembunuh Utsman sebagai syarat bagi setiap tawaran kesepakatan. Kemudian Muawiyah tidak mau mengikuti pengangkatan, dan Muawiyah tidak mau diajak berdamai oleh Ali. Perlawanan ini menyebabkan pecahnya perang Siffin pada 37 H/ 657 M. Semula peperangan ini dimenangkan pihak Ali dibawah pimpinan Malik al-Astar, namun Amr bin Al ’Ash mengusulkan pasukan Muawiyah agar melakukan tipu muslihat dengan mengangkat Al-Qur’an di atas ujung tombak, dan mengajak kelompok Ali kembali pada Al-Qur’an. Mayoritas kelompok Ali tertipu dengan muslihat tersebut, meskipun Ali sudah menasehati supaya bersabar dan melajutkan peperangan serta tidak terkecoh oleh rekayasa politik kelompok Muawiyah.

Dalam hal ini, al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani (793-852 H/1391-1448 M) berkata: “Hampir saja pasukan Syam menderita kekalahan. Akan tetapi kemudian mereka mengangkat Mushhaf al-Qur’an di ujung tombak sambil berseru kepada kelompok Ali: “Kami mengajak kalian kembali pada kitab Allah.” Akhirnya pasukan Ali meninggalkan peperangan. Lalu diantara mereka saling mengirimkan delegasi juru damai dan siapa yang menurut mereka benar maka harus di ikuti. Ali menerima proses arbitrase dan menerima Abu Musa al-Asy’ari (21 SH-44 H/602-665 M) sebagai perwakilannya. Itulah awal genjatan senjata antara kedua belah pihak.

Pada saat itu juga dari pasukan Ali muncul kelompok aksi menolak terhadap genjatan senjata dan menganggapnya melanggar hukum Al-Quran. Kelompok ini jumlahnya sangat signifikan dan keluar dari kelompok Ali, dikemudian hari disebut kaum Khawarij. Mereka berpendapat Ali dan mereka yang menerima genjatan senjata telah melanggar perintah Allah. Kaum khawrij selalu berusaha merebut massa Islam dari pengikut Ali, Muawiyah dan Amr sebab mereka yakin bahwa ketiga pemimpin ini merupakan sumber pergolakan-pergolakan, sehingga mereka bertekad untuk membunuhnya. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M) salah seorang Khawarij berhasil membunuh ‘Ali di Masjid Kufah.

Peristiwa pemecatan Fahri Hamzah oleh PKS memang belum menjadi sejarah. Peristiwa tersebut saat ini memang masih sebatas dinamika dan warna-warni politik saja. Bagaimana akhir dari dinamika ini bergantung pada pilihan-pilihan sikap pelakunya. Tentu saja kita tidak menginginkan akhir dari peristiwa ini adalah perpepacahan di tubuh PKS. Bagaimana pengaruh peristiwa ini dan implikasinya terhadap jama’ah kader PKS? Maka hanya kekuatan jama’ahlah yang dapat menjawabnya. Tentu ini berpotensi memunculkan perpecahan, namun saya berharap tidak ada yang menjadi khawarij ataupun syi’ah yang melakukan pengkultusan terhadap pribadi dalam masalah ini. Peristiwa ini hanya sebagai ujian kesolidan para kader. Dan kita akan merindukan pribadi yang berkata kepada Khalid “Sabarlah wahai komandan. Sesungguhnya jabatan adalah cobaan.”

Sabtu, 13 Februari 2016

BENARKAH SEMUA KARENA CINTA?

Membincangkannya memang tidak akan ada habis-habisnya. Setiap kita tentu ingin senantiasa merasakan kehadirannya. Ketika ia menyapa seakan kita ingin hidup dan menikmatinya selamanya. Namun ketika ia hilang, seakan dunia turut membersamai kehilangnya. Karenanya seorang penakut menjadi berani, seorang yang buta dengan sastra menjadi pujangga, dan seorang yang ramah menjadi pendendam. Ia bisa mengangkat seseorang ke puncak ketaqwaannya, namun juga bisa menjerumuskannya ke lembah fujurnya. Itulah cinta.

Ketika membincangkan kaitannya terhadap perilaku manusia, sebuah pertanyaan mungkin layak kita ajukan. "Benarkah semua karena cinta?" ataukah sebenarnya ia telah "terkontaminasi" sesuatu hingga buah dari cinta itu berbeda?

Seorang suami bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan dalih cinta kepada keluarganya dan ingin membahagiakan mereka kemudian ia melakukan korupsi dan atau sejenisnya. Benarkah itu cinta? Sementara di sisi lain ada seorang suami meninggalkan dan membiarkan istri dan anaknya berjuang hidup di sebuah padang tandus tak berpenghuni. Yang manakah diantara keduanya dikatakan karena cinta?

Orang tua membawa anak gadisnya mengikuti beragam audisi dan reality show bahkan sampai membiarkannya mengumbar aurat demi tujuan kelak sang anak terkenal dan memiliki kehidupan yang berkecukupan. Benarkah itu karena cinta? Sementara ada orang tua yang memingit anak gadisnya bahkan sampai-sampai pemuda yang bekerja untuk mereka tidak pernah mengetahui keberadaan sang gadis hingga orang tua sang gadis menikahkan mereka. Yang manakah dikatakan cinta?

Seorang anak yang bekerja keras sepanjang waktu dengan tujuan membahagiakan orang tuanya hingga akhirnya dirinya tidak memiliki waktu membersamai keduanya semasa hidup ataukah seorang anak yang rela mengorbankan dirinya demi perintah yang diterima sang ayah sekalipun itu lewat mimpi? Yang manakah diantara keduanya yang benar atas nama cinta?

Seorang pemuda yang mengumbar cinta demi sekedar untuk berpegangan tangan, mencium atau mencumbui wanita yang berstatus sebagai pacar yang tidak halal ataukah seorang pemuda yang memilih penjara daripada terjebak dalam bujukan dan rayuan majikan wanitanya? Yang manakah diantaranya karena cinta?

Cinta adalah fitrah manusia. Sebagaimana fitrah yang lain, cinta juga menuntut pemeliharaan dari pemiliknya. Ia bisa menjadi gelombang pasang yang menghantarkan para nelayan melaut, atau bahkan bisa menjadi ombak yang dahsyat yang menghempaskan perahu mereka ke batu karang yang keras. Ia bisa menghantarkan pemiliknya ke puncak kemuliaan, namun bisa pula menjerumuskannya ke lembah kehinaan.

Kebenaran cinta tidak dengan serta-merta bisa dilihat dari keputusan sikap dan perbuatan pemiliknya. Kebenaran cinta hanya dapat diukur dari sebab ia tumbuh, derajatnya (porsinya), cara pembuktiannya hingga kemana akhirnya ia bermuara. Kebenaran cinta bukan dilihat dari pahit manisnya perbuatan yang mengatasnamakan cinta tersebut.

Cinta yang sebenarnya harus tumbuh di atas dasar cinta yang abadi, Cintanya Allah SWT. Ketika kita mampu menempatkan cinta kepada Allah sebagai prioritas cinta, maka tidak akan ada kekhawatiran apapun terhadap tuntutan cinta tersebut. Berlelah-lelah dalam ibadah, menginfakkan harta, atau bahkan mengorbankan diri demi cintaNya merupakan kenikmatan yang tak sebanding dengan apapun di dunia ini.

Cinta yang sebenarnya akan mampu menghimpun beragam cinta sesuai dengan hak cinta tersebut. Ia tidak akan menjadikan dada pemiliknya sesak oleh tuntutan cinta yang lain. Cinta yang sebenarnya akan menata cinta-cinta itu menurut derajat dan kadarnya masing-masing. Cinta yang sebenarnya akan menyalurkan hak-hak cinta yang lain menurut ketentuanNya.

Dan yang terakhir, cinta yang sebenarnya adalah cinta yang kembali bermuara kepada pemilik seluruh cinta, sebab di sisiNya lah terdapat seindah-indah balasan cinta yang kenikmatannya tidak pernah terbetik sedikitpun di benak-bena kita, yaitu surga jannatunnaa'im.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik" (TQS. Ali-Imran : 14)

Wallahu a'lam bishawwab...

Minggu, 15 November 2015

AWAS JEBAKAN BETMEN

Maraknya penyebaran aliran sesat ataupun aliran yang mengatasnamakan Islam namun sesungguhnya telah keluar dari Islam memaksa kita untuk lebih berhati-hati. Pola dan cara-cara yang beragam dan dilakukan dengan sangat halus memungkinkan siapa saja terjebak dalam ajaran dan aliran sesat tersebut.

Cara-cara halus yang menjebak seperti mengajarkan materi keislaman yang kemudian pada titik tertentu disimpangkan dari yang sebenarnya, debat dengan memutarbalikkan logika, fakta dan sejarah, serta penyebaran paham seakan sekedar berbeda mahzab menjadi jebakan betmen yang bisa membawa siapapun ke dalam kondisi dimana kita secara konyol terperangkap dalam suatu kondisi yang seharusnya dengan mudah bisa dicegah atau dihindari.

Sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini adalah bagaimana seekor katak hidup direbus secara perlahan dalam air yang semula dingin. Jika katak direbus dalam air yang panas, maka katak akan melompat keluar dari wadah perebusannya. Namun karena perubahan suhu air naik secara perlahan, perubahan ini tidak disadari sang katak hingga pada titik tertentu ketika ia menyadarinya, ia sudah terlambat dan tidak mampu lagi melompat keluar. Kondisi inilah yang saya istilahkan dengan jebakan betmen para penebar aliran sesat.

Saya menggunakan istilah jebakan betmen sekedar menggambarkan bahwa target utama penyebaran aliran sesat ini adalah mereka yang kelak juga berpotensi sebagai penyebar, penyeru dan bukan sekedar penganut semata. Tentu target mereka adalah para generasi muda Islam yang memiliki potensi seperti itu. Karena itu saya menggunakan istilah jebakan betmen yang akrab dengan generasi muda saat ini sekaligus memperkenalkan istilah ini kepada para orang tua untuk kemudian lebih memperhatikan pemahaman Islam anak-anak mereka. Sudah saatnya para orang tua mengambil alih kembali pendidikan agama anak-anak mereka, bukan sekedar diserahkan kepada sekolah, guru mengaji, atau lingkungan begitu saja tanpa pengawalan.

Generasi muda merupakan sasaran yang empuk bagi para penebar aliran-aliran sesat ini. Semangat yang besar untuk memperdalam pengetahuan agama tanpa disertai pondasi agama yang kuat dari keluarga justru menjadi bumerang yang dengan mudah menyeret mereka ke dalam jebakan betmen aliran dan pemahaman sesat. Keinginan untuk belajar agama ini kemudian dimanfaatkan para penebar aliran sesat dengan mencekoki mereka materi-materi yang menyimpang, sejarah dan hadits-hadits palsu, serta logika-logika yang dipaksakan.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda ataupun sebagai orang tua perlu kiranya membangun sensitifitas dengan kesesatan dan penyimpangan yang mungkin terjadi terhadap Islam. Hal ini sangat penting untuk menghindarkan diri kita dari perangkap mereka sebelum terjebak sangat jauh dengan mereka. Sebab diantara aliran sesat itu ada yang tidak segan menggunakan ancaman demi menjaga penganutnya agar tidak melepaskan diri. 

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari jebakan betmen aliran-aliran sesat ini antara lain :

1. Mengenal ragam aliran sesat serta kesesatan mereka.

Mengetahui masalah merupakan separuh solusi. Mengenal aliran-aliran dan paham sesat yang telah ada dan tumbuh di Indonesia serta kesesatan mereka merupakan langkah awal menghindari jebakan mereka. Di awal penyebarannya, aliran-aliran sesat tidak langsung menunjukkan kesesatannya melainkan menyembunyikan jati diri mereka demi menyebarkan paham dan pemikiran mereka. Dengan mengenali ciri dan kesesatan mereka dapat menghindarkan kita terjebak dalam kesesatan mereka.

2. Mendalami Ilmu agama dan sejarah Islam dari mereka yang sudah diyakini benar pemahamannya.

Ilmu merupakan elemen penting yang dapat melindungi kita dari serangan-serangan pemikiran dan paham yang menyesatkan. Mempelajari Islam terutama ilmu tafsir, ilmu hadits dan sejarahnya akan membantu kita terhindar dari jebakan-jebakan tafsir yang salah, hadits-hadits palsu serta penyimpangan-penyimpangan sejarah. Mempelajari Islam hendaknya dari mereka yang telah diyakini kebenarannya dan apabila memungkinkan dari mereka yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga kepada Rasulullah SAW dan para sahabat. Mempelajari Islam langsung dari sumber-sumber terpercaya dapat meneguhkan keyakinan kita sehingga tidak mudah digoyang dengan argumentasi yang berupaya menyimpangkannya.

3. Mengetahui penyimpangan-penyimpangan terhadap Islam.

Mungkin saja masih banyak aliran-aliran sesat diluar sana yang belum diketahui dan belum terendus oleh para ulama. Oleh karena itu, mengetahui hal-hal yang dikategorikan sebagai penyimpangan terhadap Islam akan membantu kita terhindar dari upaya-upaya yang menyesatkan. Diantara penyimpangan terhadap Islam adalah pertama, penyimpangan aqidah seperti hal-hal menyangkut rukun iman, rukun Islam, sifat-sifat Allah, dan kenabian. Jika dalam satu ajaran terdapat perbedaan yang mendasar tentang aqidah, maka dapat dipastikan bahwa ajaran tersebut sesat dan bukan Islam. Kedua, penyimpangan ibadah. Penyimpangan ibadah yang dimaksud adalah penyimpangan ibadah yang telah tetap ketentuannya dalam Islam. Misalnya jumlah rakaat dalam shalat fardhu, puasa wajib di bulan ramadhan dan melaksanakan haji ke Mekah. Jika ada aliran yang mengajarkan rakaat shalat fardhu dan tata caranya berbeda dari Islam, atau membolehkan jamak dan qashar tanpa alasan syar'i, atau yang menetapkan puasa wajib tidak hanya di bulan ramadhan, atau melaksanakan haji tapi bukan ke Mekah dan hal-hal lainnya yang telah tetap ketentuannya maka telah pasti kesesatannya dan keluar dari Islam. Hal lain yang merupakan penyimpangan adalah mengingkari sunnah Rasulullah SAW. Misalnya mencaci dan menghina sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga berdasarkan hadits yang shahih.

4. Berjama'ah dengan para Ahlu Sunnah.

Hal lainnya yang dapat menghindarkan kita dari perangkap aliran sesat adalah berjama'ah dengan para Ahlu Sunnah. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka yang tidak berjama'ah lebih mudah terjebak dalam aliran sesat. Dengan berjama'ah berarti kita memiliki saudara yang bisa mengingatkan di saat lupa, menguatkan di saat lemah, dan menjadi tempat untuk bertanya hal-hal yang belum atau tidak kita pahami sama sekali. Hal ini akan menjaga kita dari pengaruh atau upaya-upaya yang menyimpangkan keyakinan kita.

Demikianlah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan sensitifitas kita terhadap penyimpangan dan kesesatan aliran-aliran tertentu. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat bagi pembaca sehingga mampu melindungi diri, keluarga dan masyarakat sekitar kita dari pengaruh ajaran-ajaran sesat yang telah diketahui maupun yang masih bergerilya di sekitar kita. Wallahu a'lam bishawab.

Sabtu, 04 Juli 2015

SHAUM RAMADHAN : SEBUAH PERJALANAN IMAN DARI MERASA BERIMAN HINGGA BENAR IMANNYA (Refleksi Perjalanan Separuh Ramadhan 1436 H)

Suatu ketika Rasulullah SAW didatangi sekelompok orang-orang Arab Badui yang mengungkit-ungkit keberimanan mereka. Mereka mengklaim bahwa keberimanan telah bersemayam dalam hati mereka pada saat pertama kali mereka masuk islam. Mereka juga menganggap bahwa keimanan mereka adalah nikmat bagi Rasulullah karena mereka beriman tanpa melalui peperangan terlebih dahulu.

Namun, Allah SWT menyanggah pernyataan mereka dengan menurunkan ayat berikut :
"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, Padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu? Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hujaraat : 14 – 18)

Ayat di atas menunjukkan adanya perbedaan kedudukan antara telah berislam (muslim) dan telah beriman (mukmin). Dan terlihat bahwa keberimanan memiliki kedudukan lebih dari keberislaman. Namun, orang Arab badui tersebut bukanlah termasuk orang munafik. Mereka ditegur karena dengan cepat mengaku beriman sekalipun iman itu belum masuk ke dalam hati-hati mereka disebabkan mereka baru memeluk islam dan belum diuji keberimanan mereka. Jadi, ayat-ayat di atas merupakan pengarahan dan pengajaran bagi mereka untuk menumbuhkan keimanan dengan cara terus melakukan ketaatan kepada Allah SWT, dan Allah SWT tidak akan mengurangi pahala amalan-amalan tersebut.

Berkaitan dengan shaum ramadhan, seringkali kita diperdengarkan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah berikut :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah : 183)

Pertanyaannya adalah “siapakah yang diseru Allah untuk menjalankan ibadah shaum?” dan “siapakah yang menyambut seruan itu?”.

Dalam ayat tersebut Allah SWT jelas menyeru kepada orang-orang yang beriman. Dan yang menyambut seruan tersebut tentulah orang-orang yang merasa beriman. Dalam hal ini, rasa beriman merupakan titik awal untuk memenuhi seruan dan melaksanakan ketaatan. Hanya mereka yang merasa beriman yang akan memenuhi perintah Allah SWT untuk melaksanakan shaum. Dengan demikian rasa beriman merupakan tangga awal yang harus dijajaki seorang yang telah berislam (telah tunduk) yang kemudian keberimanan itu akan diuji kebenarannya sebagaimana firman Allah SWT berikut :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut : 2-3)


Rasa beriman inilah yang kemudian mampu menjelaskan mengapa di awal ramadhan seluruh umat islam begitu antusias memenuhi seruan untuk melaksanakan shaum dan mendirikan malamnya. Dan dalam perjalanannya, rasa beriman itu di uji kebenarannya dalam melaksanakan shaum dan ketaatan lainnya. Mereka yang sekedar merasa-rasa telah beriman tentu tidak akan bertahan dalam ibadahnya, sedangkan mereka yang benar rasa berimannya maka akan benarlah keimanannya dan akan membuahkan pribadi yang taqwa sebagai hasil dari ibadah shaum yang dijalankan.